Jurnal hukum Indonesia Bangkalan.Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Patemon, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, menuai kritik masyarakat setelah menu yang diterima siswa dinilai jauh dari layak.
Menu yang dibagikan hanya berupa nasi porsi kecil, satu butir telur rebus, sepotong tahu, sedikit kecambah dengan sambal kacang, serta dua butir anggur. Komposisi ini dianggap tidak mencerminkan makanan bergizi seimbang, baik dari sisi jumlah maupun kandungan nutrisi untuk anak sekolah.
Saat dikonfirmasi, pihak SPPG setempat mengakui menu tersebut memang dibagikan pada hari itu. Namun ketika ditanya soal standar gizi dan kelayakan, tidak ada penjelasan jelas.
“Iya, itu benar menu MBG kami hari ini,” ujarnya singkat Bahkan ketua SPPG mengajak ketemuan, diduga untuk berkoordinasi lebih lanjut agar kondisi ini tidak melebar.
Sikap tersebut terkesan bahwa penyusunan menu dilakukan tanpa perencanaan matang, padahal program MBG seharusnya menjadi penopang kebutuhan gizi siswa, bukan sekadar formalitas pembagian makanan.
“Mending kita ketemu saja biar kita selesaikan hal ini,” lanjut ketua SPPG Patemon.
Media akan terus memantau pelaksanaan program MBG ini terutama dalam pemenuhan Gisi sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Diduga SPPG Patemon Tanah Merah Buat Menu MBG Asal-Asalan
Bangkalan.
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Patemon, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, menuai kritik masyarakat setelah menu yang diterima siswa dinilai jauh dari layak.
Menu yang dibagikan hanya berupa nasi porsi kecil, satu butir telur rebus, sepotong tahu, sedikit kecambah dengan sambal kacang, serta dua butir anggur. Komposisi ini dianggap tidak mencerminkan makanan bergizi seimbang, baik dari sisi jumlah maupun kandungan nutrisi untuk anak sekolah.
Saat dikonfirmasi, pihak SPPG setempat mengakui menu tersebut memang dibagikan pada hari itu. Namun ketika ditanya soal standar gizi dan kelayakan, tidak ada penjelasan jelas.
“Iya, itu benar menu MBG kami hari ini,” ujarnya singkat.
Bahkan ketua SPPG mengajak ketemuan, diduga untuk berkoordinasi lebih lanjut agar kondisi ini tidak melebar.
Sikap tersebut terkesan bahwa penyusunan menu dilakukan tanpa perencanaan matang, padahal program MBG seharusnya menjadi penopang kebutuhan gizi siswa, bukan sekadar formalitas pembagian makanan.
“Mending kita ketemu saja biar kita selesaikan hal ini,” lanjut ketua SPPG Patemon.
Media akan terus memantau pelaksanaan program MBG ini terutama dalam pemenuhan Gisi sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Jurnalis isw89/ /Rob