Jurnal hukum Indonesia Bangkalan.Penanganan kasus pencurian sepeda motor yang menimpa seorang wartawan lokal di wilayah hukum Polres Bangkalan diduga mandek. Lima bulan sejak laporan dibuat, pelaku yang wajahnya terekam jelas kamera CCTV belum juga berhasil diungkap.
Peristiwa itu terjadi pada 12 Oktober 2025 di Bangkalan. Korban, Supriadi, langsung melapor pada hari yang sama dengan harapan aparat segera menindaklanjuti. Namun hingga kini, ia mengaku tidak lagi menerima perkembangan dari penyidik.
“SP2HP terakhir saya terima Desember 2025. Setelah itu tidak ada kabar lagi, komunikasi juga buntu,” ujarnya.
Padahal, menurut Supriadi, rekaman CCTV yang diserahkan kepada penyidik menampilkan wajah pelaku secara jelas tanpa penutup. Bukti tersebut dinilai seharusnya cukup menjadi dasar untuk melakukan identifikasi dan pengejaran.
“Wajahnya terlihat sangat jelas. Harusnya itu bisa mempermudah pengungkapan. Tapi sampai sekarang belum ada hasil,” kata Supriadi.
Lambannya penanganan ini, lanjut dia, berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap proses penegakan hukum. Ia mempertanyakan keseriusan aparat jika kasus dengan bukti visual yang kuat saja belum terselesaikan.
“Kalau yang buktinya jelas saja belum terungkap dalam waktu lama, bagaimana dengan kasus lain yang minim bukti?” ujarnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, saat dikonfirmasi hanya menyampaikan bahwa SP2HP akan dikirimkan kembali oleh penyidik kepada pelapor.
Menanggapi hal tersebut, Supriadi menilai pengiriman Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan seharusnya dilakukan rutin tanpa harus menunggu sorotan atau pertanyaan dari korban maupun media.
“SP2HP itu kewajiban penyidik, bukan dikirim setelah ditanyakan. Jangan sampai terkesan bergerak kalau sudah disorot,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa yang dipersoalkan bukan sekadar administrasi, melainkan keseriusan dalam menangani perkara dan menangkap pelaku.
“Ini bukan hanya soal surat, tapi soal penegakan hukum. Sudah lima bulan, pelaku belum tertangkap dan perkembangan tidak jelas. Wajar kalau publik bertanya,” pungkasnya.
Jurnalis Red/Rob