Oleh: Shihhatul Afiyah (Sastra Inggris)
Bangkalan,Jurnal Hukum Indonesia.–
Pendahuluan
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) kini menjadi salah satu pendorong utama perilaku konsumerisme masyarakat Indonesia. Di era digital yang serba cepat, masyarakat tidak hanya membeli barang berdasarkan kebutuhan, tetapi juga karena dorongan psikologis untuk tidak tertinggal tren, informasi, maupun pengalaman. Artikel ini menganalisis bagaimana FOMO memengaruhi pola konsumsi masyarakat Indonesia modern, serta faktor-faktor yang memperkuatnya.
1. Pengertian FOMO dan Konsumerisme
FOMO adalah kondisi psikologis berupa kecemasan karena merasa akan tertinggal dari pengalaman atau tren yang dialami orang lain. Sementara itu, konsumerisme adalah gaya hidup yang menekankan konsumsi barang dan jasa secara berlebihan demi memenuhi keinginan sosial atau emosional. Di Indonesia, kedua fenomena ini saling berkaitan erat, terutama sejak meningkatnya penggunaan media sosial dan akses e-commerce yang sangat luas.
2. Faktor yang Memicu FOMO dalam Konsumerisme Indonesia
A. Dominasi Media Sosial
Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial tertinggi. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan gaya hidup, barang baru, dan tren viral. Paparan konten semacam ini memicu kecemasan untuk tidak ikut serta dan membuat individu terdorong membeli demi merasa “setara”.
B. Influencer dan Budaya Endorsement
Influencer memainkan peran besar dalam menciptakan FOMO. Mereka mempromosikan produk dengan lifestyle yang tampak menarik, seolah-olah penggunaan produk tersebut menjadi simbol status sosial. Masyarakat pun terdorong membeli agar tidak merasa “kurang gaul”.
C. Flash Sale dan Strategi E-commerce
Program seperti “11.11”, “12.12”, atau “Ramadhan Sale” menggunakan strategi pemasaran yang memanfaatkan urgensi waktu. Notifikasi diskon terbatas dan countdown timer memicu dorongan membeli, bukan karena kebutuhan, tetapi karena takut kehilangan kesempatan.
D. Budaya Kolektivisme
Masyarakat Indonesia memiliki budaya kolektivisme yang kuat. Keinginan untuk diterima di kelompok sosial mendorong individu mengikuti tren, mulai dari kuliner viral, produk kecantikan, hingga fashion. Tidak ikut serta sering menimbulkan rasa ketinggalan dan terasing.
3. Bentuk Perilaku Konsumerisme yang Dipengaruhi FOMO
A. Pembelian Impulsif
Banyak masyarakat membeli barang tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau kemampuan finansial. Contohnya: membeli skincare viral, gadget terbaru, atau tiket konser hanya karena lingkungan sosial melakukannya.
B. Konsumsi Berbasis Tren
Tren cepat berubah di media sosial. Makanan viral, outfit aesthetic, atau barang lucu dari TikTok Shop sering dibeli karena sedang dibicarakan, bukan karena nilai guna jangka panjang.
C. Validasi Sosial Melalui Posting
Sebagian masyarakat membeli demi dapat mengunggahnya di media sosial. “Pamer konsumsi” menjadi bentuk pencarian pengakuan, yang semakin memperkuat siklus konsumtif.
D. Penumpukan Barang Tidak Terpakai
Dampaknya terlihat pada meningkatnya fenomena unboxing dan barang tidak terpakai yang menumpuk akibat pembelian impulsif.
4. Dampak FOMO dalam Konsumerisme
A. Dampak Psikologis
1. Muncul kecemasan sosial berkelanjutan
2. Rasa tidak puas dan membandingkan diri dengan orang lain
3. Tekanan untuk terus mengikuti standar sosial dunia digital
B. Dampak Ekonomi
1. Pengeluaran bertambah tanpa perencanaan
2. Risiko hutang meningkat karena penggunaan paylater dan cicilan
3. Ketergantungan pada konsumsi sebagai sumber kebahagiaan instan
C. Dampak Sosial dan Budaya
1. Gaya hidup serba instan
2. Pergeseran nilai dari kebutuhan menjadi pamer status
3. Menurunnya kemampuan refleksi diri dan kesadaran finansial
—
5. Strategi Mengurangi Dampak FOMO dalam Konsumerisme
A. Meningkatkan Literasi Digital
Masyarakat perlu memahami bahwa media sosial hanya menampilkan highlight kehidupan, bukan realitas sepenuhnya. Kesadaran ini dapat mengurangi dorongan untuk membandingkan diri.
B. Mengelola Finansial dengan Bijak
Menerapkan anggaran, memprioritaskan kebutuhan, dan menghindari godaan paylater adalah langkah penting mengatasi konsumsi berlebihan.
C. Membangun Mindset Minimalis dan Reflektif
Fokus pada fungsi dan kebutuhan personal, bukan tren sosial. Mindfulness membantu individu menyadari motif konsumsi mereka.
D. Mengurangi Paparan Pemasaran Digital
Mengatur waktu penggunaan media sosial dan mematikan notifikasi promo dapat mengurangi pemicu FOMO.
Kesimpulan
Perilaku FOMO telah menjadi faktor penting dalam konsumerisme masyarakat Indonesia modern. Didukung oleh media sosial, budaya kolektivisme, dan strategi pemasaran digital yang agresif, FOMO mendorong masyarakat untuk mengonsumsi secara impulsif demi validasi sosial. Meski fenomena ini sulit dihindari, peningkatan kesadaran dan literasi digital dapat membantu individu lebih bijak dalam mengelola konsumsi. Pada akhirnya, keberhasilan mengatasi FOMO tidak hanya berdampak pada pengelolaan finansial, tetapi juga pada kesejahteraan mental dan kualitas hidup yang lebih sehat dan stabil.
Sabtu13 Desember 2025
Buya Dr. Mohamad Djasuli
Pengasuh PPM Tebu Falah