Di Usia 63 Tahun, Mas IR Buktikan dengan Karya Lewat Pameran Tunggal

Jurnal hukum indonesia Bangkalan.Di tengah semakin terbatasnya ruang ekspresi bagi para seniman daerah, perupa senior Bangkalan, Drs. Fajar Iriyadi atau yang akrab disapa Mas IR, kini menunjukkan semangatnya dengan karya-karyanya yang seakan tak pernah lesu walau dengan usia maupun keadaan. Melalui pameran seni rupa tunggal yang digelar di Taman Paseban Alun-Alun Bangkalan, Sabtu (20/6), tak hanya memamerkan karya, tetapi ia juga mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.

Pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut dibuka dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan walau tanpa melibatkan pemerintah daerah. Berbagai pertunjukan seni ditampilkan oleh anak-anak didik Sanggar Lukis Madurese, mulai dari hiburan musik, tari tradisional, pantomim, hingga demonstrasi melukis secara langsung oleh para anak didiknya mulai dari tingkat TK hingga SMA/SMK.

Ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan seni yang dilakukan selama bertahun-tahun terus melahirkan generasi kreatif yang percaya diri dan produktif.

Pembukaan kegiatan diawali dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan panjang berkesenian yang telah ditempuh Mas IR.

Dalam sambutannya, Mas IR menegaskan bahwa karya bukan sekadar hasil kreativitas, melainkan jejak nilai yang akan terus hidup dan memberi makna bagi orang lain. Karena itu, ia berpesan kepada seluruh muridnya agar tidak pernah berhenti belajar, berproses, dan menghasilkan karya terbaik sesuai kemampuan masing-masing.

“Saya berharap anak-anak didik saya terus tumbuh, berani berkarya, dan mampu menunjukkan prestasi terbaiknya. Karya yang lahir hari ini bisa menjadi inspirasi bagi masa depan mereka,” ungkapnya.

Momen paling menyentuh terjadi ketika Mas IR menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga dan orang-orang yang selama ini mendampingi perjalanan hidupnya. Dengan suara yang bergetar, ia mengenang almarhumah ibundanya yang selalu mengajarkan pentingnya hidup dengan kesadaran serta kebermanfaatan bagi sesama.

Menurutnya, kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada keluarga, lingkungan, dan banyak orang.

Memasuki malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan dialog publik yang membahas eksistensi seni, tantangan seniman daerah, serta pentingnya menjaga semangat berkarya sebagai bagian dari pembangunan karakter dan peradaban.

Pameran tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, mulai dari sesama seniman, pelaku usaha lokal, lembaga pendidikan, hingga para orang tua yang selama ini mempercayakan putra-putrinya belajar di Sanggar Lukis Madurese.

Sebagai pendiri sanggar yang telah bertahan selama puluhan tahun, Mas IR meyakini bahwa setiap orang memiliki ruang untuk berkarya sesuai profesi, bakat, dan minatnya masing-masing. Ia mengajak masyarakat untuk tidak menyia-nyiakan waktu serta terus menyalakan semangat kreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

Berkaryalah sampai menemukan kebahagiaan dalam prosesnya. Sebab karya yang lahir dengan ketulusan tidak hanya membahagiakan diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi manfaat bagi banyak orang,” pesannya.

Pameran tunggal ini pada akhirnya bukan hanya menjadi ruang apresiasi seni rupa. Lebih dari itu, ada pesan moral yang menjadi motivasi bahwa kreativitas, ketekunan, dan keinginan saling memberi manfaat kepada sesama merupakan warisan nilai yang harus terus dijaga dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Hobi dan profesi hanya sebagai pintu masuk menuju keberlimpahan,” pungkasnya. Robin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *