Titimongso / Pranatamangsa Kalender Musim tradisi Jawa Ajaran Leluhur Nusantara Oleh KP Dharmanto Soeryo Negoro

Ponorogo, Jurnal Hukum Indonesia.

Pernah dengar istilah titi mangsa?
Ini bukan ramalan, bukan mitos, dan bukan klenik. Titi mangsa adalah sistem kalender musim tradisional Jawa yang disusun berdasarkan observasi ilmiah jangka panjang terhadap alam : angin, hujan, suhu udara, hewan, tanaman, dan lingkungan.

Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis hitungan astronomi, titi mangsa adalah kalender ekologis. Ia lahir dari kesabaran nenek moyang Jawa yang mengamati perubahan alam selama ratusan tahun lalu menyusunnya menjadi pola yang teratur.

Indonesia, termasuk Jawa, berada di wilayah iklim monsun. Artinya, arah angin berubah setiap setengah tahun, membawa musim kemarau dan musim hujan. Tapi perubahan itu tidak terjadi mendadak. Ada masa transisi, ada tanda-tanda kecil di alam, ada fase yang bisa dibaca.
Nah… fase-fase itulah yang kemudian disusun menjadi 12 mangsa dengan durasi berbeda-beda sesuai perubahan alam, bukan angka kalender.

Setiap mangsa punya ciri khas :

perubahan suhu dan kelembapan

pola curah hujan

perilaku hewan dan serangga

fase tumbuh tanaman

risiko lingkungan seperti kekeringan atau banjir

Secara ilmiah, titi mangsa sangat dekat dengan :

phenology → ilmu yang mempelajari hubungan fase tumbuhan & hewan dengan iklim

agroklimatologi → hubungan iklim dengan pertanian

pattern recognition iklim yang hari ini dipelajari secara modern

Karena itu, titi mangsa dulu menjadi “panduan hidup” masyarakat Jawa : Untuk menentukan waktu tanam dan panen
Untuk membaca potensi hama & penyakit tanaman
Untuk memahami waktu paceklik & ketersediaan air
Untuk membaca arah angin, cuaca, bahkan keselamatan perjalanan
Bukan sekadar budaya, tapi sistem pengetahuan lingkungan yang cerdas.

Apakah masih relevan sekarang?
Masih. Walau perubahan iklim, El Niño, dan La Niña membuat musim bergeser, logika titi mangsa tetap penting, manusia harus belajar membaca alam, tidak hanya bergantung pada angka dan teknologi. Banyak peneliti bahkan menjadikannya referensi dalam studi lingkungan dan pertanian modern.

Jadi, kalau ada yang bilang titi mangsa itu mistis… mungkin mereka belum tahu bahwa di balik kearifan lokal Jawa ini, ada logika ilmiah, pengalaman ekologis panjang, dan kecerdasan peradaban yang luar biasa.

Alam sebenarnya selalu memberi tanda. Tinggal kita… mau peka atau tidak, Gusti Kasembadan Rahayu” .
_Pewarta, KP Dhar SN_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *