HUBUNGAN ANTARA DEFORESTASI DAN TINGKAT KEPARAHAN BANJIR DI INDONESIA

Oleh: Eva Nur Hamidah

Bangkalan,Jurnal Hukum Indonesia.–

 

Deforestasi merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya keparahan banjir di Indonesia. Pengurangan tutupan hutan terjadi akibat berbagai aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan, pertambangan, pembangunan permukiman, serta infrastruktur. Hutan berperan penting dalam menjaga keseimbangan hidrologis karena mampu menyerap curah hujan, memperlambat aliran air, serta menahan sedimen. Ketika fungsi hutan ini hilang, kemampuan tanah untuk menahan air menurun drastis, meningkatkan limpasan permukaan dan risiko banjir di wilayah hilir. Fenomena ini dapat diamati di berbagai provinsi di Indonesia, terutama di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, yang mengalami tingkat deforestasi tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Di daerah-daerah tersebut, banjir cenderung lebih sering terjadi dan berdampak lebih parah dibandingkan wilayah dengan tutupan hutan yang relatif stabil. Hilangnya vegetasi menyebabkan tanah menjadi gembur dan mudah tererosi, sehingga saat hujan deras, material tanah terbawa aliran sungai dan menumpuk di dasar sungai. Kondisi ini mengurangi kapasitas sungai menahan air, sehingga volume aliran yang seharusnya tertahan kini mudah meluap dan menimbulkan banjir.
Selain faktor lokal, perubahan iklim global memperburuk kondisi banjir di Indonesia. Peningkatan intensitas dan frekuensi hujan ekstrem akibat pemanasan global membuat wilayah yang telah mengalami deforestasi semakin rentan. Perubahan pola curah hujan yang tidak menentu menyebabkan sungai dan waduk tidak mampu menampung debit air yang meningkat secara tiba-tiba. Dampak gabungan antara deforestasi dan fenomena cuaca ekstrem ini memperkuat kesimpulan bahwa degradasi hutan memiliki korelasi langsung terhadap tingkat keparahan banjir, termasuk luasnya area terdampak dan jumlah korban yang meningkat. Dampak banjir yang terjadi sangat kompleks, mencakup kerusakan infrastruktur, kehilangan mata pencaharian, gangguan layanan publik, hingga risiko kesehatan masyarakat. Rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan jalan-jalan vital sering mengalami kerusakan parah, sehingga mobilitas masyarakat terganggu. Sektor pertanian, yang sangat bergantung pada kondisi iklim, juga terdampak signifikan. Tanaman padi, sayuran, dan hortikultura yang tergenang air mengalami gagal panen, menurunkan produksi pangan dan memengaruhi ketahanan ekonomi lokal. Dampak ini paling dirasakan oleh kelompok rentan, termasuk petani kecil, nelayan, dan masyarakat pesisir, yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk menghadapi bencana.
Selain itu, banjir yang diperburuk deforestasi juga memiliki implikasi ekologis. Hilangnya hutan menyebabkan berkurangnya habitat satwa liar dan menurunnya keanekaragaman hayati. Aliran sedimen yang tinggi ke sungai dapat merusak ekosistem perairan, mengancam populasi ikan, dan mengganggu kualitas air. Dampak lingkungan ini bersifat jangka panjang dan sulit diperbaiki tanpa intervensi yang sistematis, sehingga menggarisbawahi perlunya manajemen sumber daya alam yang berkelanjutan. Untuk mengurangi tingkat keparahan banjir, diperlukan strategi mitigasi dan adaptasi yang terintegrasi. Upaya mitigasi dapat dilakukan melalui pengendalian deforestasi, rehabilitasi hutan, dan reforestasi di daerah aliran sungai. Penanaman kembali vegetasi lokal yang mampu menahan air dan memperkuat struktur tanah merupakan langkah penting dalam memperbaiki fungsi ekologis wilayah. Selain itu, pengelolaan tata ruang yang berorientasi pada mitigasi risiko bencana, seperti menghindari pembangunan di daerah rawan banjir atau longsor, dapat mengurangi dampak langsung terhadap masyarakat.

Pendekatan adaptasi juga sangat diperlukan. Sistem peringatan dini, penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana, serta pembangunan infrastruktur tahan bencana merupakan langkah praktis untuk meningkatkan ketahanan. Masyarakat lokal perlu dilibatkan secara aktif dalam program rehabilitasi dan konservasi hutan agar upaya ini berkelanjutan. Pendidikan dan literasi iklim juga menjadi aspek penting untuk membangun kesadaran kolektif mengenai hubungan antara deforestasi dan risiko banjir.

 

Selasa16 Desember 2025
Buya Dr. Mohamad Djasuli
Pengasuh PPM Tebu Falah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *