Tubuhku Hakku: Pentingnya Budaya Persetujuan bagi Anak Usia Dini

Penulis; Dewi Anjani M.R.A

Program Studi PG PAUD

Bangkalan,Jurnal Hukum Indonesia.–

Dalam beberapa tahun terakhir, isu tentang consent culture atau budaya persetujuan mulai mendapat perhatian dalam dunia pendidikan. Walaupun istilah ini sering dikaitkan dengan remaja dan orang dewasa, penerapannya justru paling efektif ketika diperkenalkan sejak anak berada pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak pada usia dini sedang berada dalam tahap pembentukan identitas diri, memahami emosi, dan belajar membangun relasi sosial. Karena itu, mengenalkan prinsip “tubuhku adalah hakku” sejak awal menjadi langkah penting dalam menanamkan rasa aman, percaya diri, dan kesadaran akan batas pribadi. Pengenalan budaya persetujuan tidak harus dilakukan melalui konsep yang rumit. Interaksi sehari-hari di kelas PAUD sudah cukup menjadi ruang belajar yang sangat efektif. Ketika guru menanyakan, “Boleh Ibu bantu memakai sepatunya?” atau “Apakah kamu nyaman kalau Bu Guru memeriksa tanganmu?”, anak menyaksikan langsung bagaimana seseorang menghormati batas tubuh mereka. Sikap guru ini menjadi model perilaku yang akan ditiru anak, karena pada usia ini, proses belajar banyak berlangsung melalui pengamatan. Dalam jangka panjang, pengalaman sederhana ini menumbuhkan keyakinan pada anak bahwa mereka memiliki hak menentukan kenyamanan diri. Selain memahami hak atas tubuhnya sendiri, penerapan consent culture juga mengajarkan anak keterampilan sosial penting: menghargai batasan orang lain. Anak dibiasakan untuk bertanya sebelum meminjam barang teman, tidak memaksakan pelukan, atau menunggu kesediaan teman sebelum bermain bersama.
Ketika seorang teman menolak, mereka belajar menerima perbedaan preferensi dan memahami bahwa setiap orang memiliki rasa nyaman yang berbeda. Kemampuan ini tidak hanya membangun empati, tetapi juga mencegah munculnya perilaku agresif atau dominasi di antara anak-anak. Tantangan muncul ketika norma budaya dan pola pengasuhan masih menganggap bahwa anak harus selalu patuh kepada orang dewasa. Banyak orang tua yang bermaksud baik justru memaksa anak bersalaman, dipeluk, atau dicium kerabat sebagai bentuk sopan santun. Praktik seperti ini secara tidak langsung membuat anak kesulitan mengenali batas dirinya karena terbiasa menekan rasa tidak nyaman. Padahal, dalam konteks perkembangan, kemampuan anak untuk mengatakan “tidak nyaman” adalah keterampilan protektif yang penting. Oleh sebab itu, kerja sama antara pendidik dan orang tua diperlukan agar prinsip persetujuan dapat diterapkan secara konsisten baik di rumah maupun di sekolah. Secara keseluruhan, penerapan budaya persetujuan sejak PAUD bukan hanya upaya membangun rasa aman, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter dan relasi sosial anak. Ketika anak tumbuh dengan keyakinan bahwa tubuh mereka berharga dan layak dihargai, mereka akan lebih mampu melindungi diri, memahami orang lain, dan membangun relasi yang sehat. Budaya persetujuan membantu mencetak generasi yang lebih sadar, empatik, dan berani menyatakan batas diri tanpa melukai orang lain. Dengan demikian, “tubuhku adalah hakku” bukan sekadar slogan, tetapi fondasi penting dalam pendidikan anak usia dini yang perlu terus diperkuat di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Kamis18 Desember 2025
Buya Dr. Mohamad Djasuli
Pengasuh PPM Tebu Falah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *