Jurnal hukum Indonesia Surabaya Hidup sebagai mahasiswa memang penuh warna, tapi juga penuh tantangan. Lingkungan baru, teman baru, tren baru, tapi keuangan terbatas. Banyak mahasiswa yang ingin tampil keren, nongkrong di tempat hits, beli outfit kekinian, atau ikut tren viral di media sosial.
Tapi, masalahnya adalah keinginan lebih besar daripada kemampuan finansial. Uang saku yang seharusnya cukup untuk kebutuhan pokok, makanan, transportasi, dan tugas kuliah, justru habis untuk memenuhi gaya hidup. Ini seperti permainan yang tidak seimbang, kan?
Dalam ilmu perilaku konsumen, ini disebut social influence, yaitu dorongan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan agar merasa diterima secara sosial. Tapi, perlu diingat bahwa kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) itu berbeda. Kebutuhan bersifat mendesak dan penting, sedangkan keinginan lebih pada pemuas kepuasan pribadi.
Jangan sampai FOMO (fear of missing out) membuat kamu mengambil keputusan konsumtif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Tampil sederhana bukan berarti tidak keren, justru, mahasiswa yang mampu mengelola keuangannya dengan bijak menunjukkan kedewasaan dan kecerdasan finansial.
Jadi, gaya boleh saja mengikuti tren, tapi logika keuangan tetap harus jalan!
Jurnalis isw89/idm