Oleh: Ayu Maghfuriyah
Bangkalan – jurnalhukumindonesia.in, Selama puluhan tahun, akuntansi dipandang sebagai disiplin ilmu yang didominasi oleh aturan, angka, dan logika rasional. Asumsi dasar akuntansi konvensional menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan yang sepenuhnya rasional dan memiliki motif tunggal untuk memaksimalkan nilai ekonomi.
Namun, realitas dunia bisnis menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Keputusan manajer dalam menyusun anggaran, kebijakan auditor dalam menentukan opini, hingga perilaku investor di pasar modal, sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Pada titik inilah Akuntansi Keprilakuan (Behavioral Accounting) hadir sebagai jembatan antara dunia angka yang kaku dan realitas manusia yang penuh dinamika.
Batasan Rasionalitas dan Bias Kognitif
Inti dari Akuntansi Keprilakuan adalah konsep Bounded Rationality yang dikemukakan Herbert Simon. Konsep ini menjelaskan bahwa kemampuan manusia dalam memproses informasi dan membuat keputusan memiliki keterbatasan. Karena itu, individu sering menggunakan heuristik atau jalan pintas mental yang berpotensi menimbulkan bias kognitif.
Dalam praktik penyusunan laporan keuangan, manajer sering terlibat dalam earnings management (manajemen laba). Fenomena ini tidak semata dipicu oleh insentif kontraktual, tetapi juga oleh motif psikologis, seperti keinginan mempertahankan citra positif (self-enhancement bias) dan optimisme berlebihan (optimism bias) terhadap prospek perusahaan.
Di sisi lain, investor pun tidak luput dari bias. Perilaku herding (ikut-ikutan) dan confirmation bias (hanya menerima informasi yang mendukung keyakinan awal) sering kali memengaruhi keputusan investasi. Akuntansi Keprilakuan membantu memetakan dan memprediksi penyimpangan perilaku tersebut dari model rasional murni.
Aplikasi dalam Tiga Pilar Akuntansi
1. Akuntansi Manajemen dan Penganggaran
Dalam lingkup internal perusahaan, Akuntansi Keprilakuan banyak menyoroti fenomena budgetary slack, yakni kecenderungan manajer menyusun anggaran yang lebih rendah dari potensi riil atau membengkakkan biaya untuk mengurangi tekanan target.
Motif utamanya bukan hanya teknis, tetapi juga psikologis—untuk mengamankan posisi dan memastikan pencapaian kinerja. Kajian keprilakuan menelaah bagaimana gaya kepemimpinan, sistem penghargaan, serta budaya organisasi dapat meminimalkan perilaku disfungsional tersebut.
2. Auditing dan Etika
Dalam praktik audit, judgment profesional auditor sangat dipengaruhi oleh faktor manusia. Salah satu bias yang sering muncul adalah self-serving bias, yaitu kecenderungan auditor menoleransi perlakuan akuntansi klien demi menjaga hubungan profesional.
Akuntansi Keprilakuan menekankan pentingnya memahami pengaruh tekanan waktu, kompleksitas tugas, dan nilai pribadi auditor terhadap independensi dan skeptisisme profesional.
3. Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal
Di pasar modal, Akuntansi Keprilakuan beririsan dengan Behavioral Finance yang mengkaji pengaruh emosi dan bias terhadap harga saham.
Fenomena Disposition Effect—kecenderungan menjual saham untung terlalu cepat dan menahan saham rugi terlalu lama—menunjukkan bahwa keputusan investasi jauh dari rasional murni. Laporan keuangan menjadi stimulus utama yang memicu respons emosional dan perilaku investor tersebut.
Kesimpulan
Akuntansi Keprilakuan bukanlah pengganti akuntansi konvensional, melainkan pelengkap kritis yang menyempurnakan pemahaman kita tentang bagaimana laporan keuangan benar-benar berfungsi di dunia nyata.
Dengan mengakui bahwa manusia—dengan segala keterbatasan kognitif, motif, dan emosinya—adalah aktor utama dalam sistem pelaporan keuangan, kita dapat merancang sistem pengendalian, standar audit, dan kebijakan perusahaan yang lebih realistis, efektif, dan berintegritas.
Memahami psikologi di balik laporan keuangan adalah kunci menuju praktik akuntansi yang lebih transparan, akuntabel, dan berkeadilan.
Kamis, 25 Desember 2025
Buya Dr. Mohamad Djasuli
Pengasuh PPM Tebu Falah