Di Tengah Lautan Manusia di Tanah Suci, Jamaah KBIHU AG Tinggalkan Jejak Abadi Lewat Wakaf Al-Qur’an*

JURNAL HUKUM INDONESIA MAKKAH — Tidak semua jejak di Tanah Suci tertinggal oleh langkah kaki. Sebagian jejak justru tertinggal dalam bentuk amal yang akan terus hidup, dibaca, dan mengalirkan pahala bahkan ketika pemiliknya telah kembali ke tanah air.

Suasana inilah yang terasa di tengah perjalanan ibadah jamaah KBIHU Al-Gratis (AG) Bangkalan tahun ini. Di sela thawaf, pengajian manasik, dan munajat panjang di hadapan Ka’bah, para jamaah diajak merenungkan satu pertanyaan sederhana namun dalam:
“Apa yang akan kita tinggalkan untuk Allah setelah pulang dari Baitullah?”

Dari renungan itu lahir gerakan penuh ketulusan: *Program Wakaf Al-Qur’an KBIHU AG*.

230 Mushaf Wakaf untuk Tanah Suci
Melalui kerja sama dengan Makkah Al-Haromain Waqaf, jamaah KBIHU AG berpartisipasi dalam program sedekah jariyah berupa wakaf mushaf Al-Qur’an yang akan digunakan di lingkungan Tanah Suci.

Hingga saat ini, tercatat 230 pewakaf Al-Qur’an telah ikut ambil bagian dalam program penuh keberkahan tersebut.

Bagi sebagian orang mungkin itu hanya angka. Namun bagi jamaah yang berada di Tanah Suci, angka itu adalah harapan. Harapan agar setiap huruf yang dibaca dari mushaf tersebut menjadi:
– cahaya kubur,
– penghapus dosa,
– hadiah untuk orang tua,
– dan amal yang terus mengalir tanpa henti.

Ada jamaah yang diam-diam menangis ketika menyerahkan wakafnya. Ada yang berniat menghadiahkan pahala untuk ayah dan ibu yang telah wafat. Ada pula yang berkata, “Mungkin saya tidak punya banyak amal. Semoga Al-Qur’an ini yang nanti menolong saya.”

Haji yang Membentuk Hati
Program wakaf Al-Qur’an ini menjadi salah satu warna pembinaan ruhani yang terus dibangun KBIHU AG selama mendampingi jamaah di Tanah Suci.

Bagi KBIHU AG, perjalanan haji bukan sekadar berpindah negara, memakai ihram, atau mengelilingi Ka’bah. Perjalanan ini adalah upaya untuk melembutkan hati, memperbaiki diri, dan belajar meninggalkan amal terbaik sebelum kembali menghadap Allah SWT.

Pembimbing haji KBIHU AG, Mohamad Djasuli, menyampaikan bahwa haji mabrur bukan hanya terlihat dari kesempurnaan ritual ibadah, tetapi juga dari perubahan hati dan lahirnya kepedulian untuk berbagi manfaat kepada sesama. Karena itu, jamaah tidak hanya dibimbing tentang fiqih manasik, tetapi juga diajak memahami makna sedekah jariyah, wakaf, dan amal yang terus hidup setelah manusia meninggal dunia.

Melayani, Bukan Berbisnis
Inilah yang membuat banyak jamaah merasakan bahwa perjalanan bersama KBIHU AG berbeda. Bukan hanya dibimbing cara berhaji, tetapi juga diajak memahami bagaimana membawa hati lebih dekat kepada Allah.

Tidak sedikit calon jamaah yang mulai tertarik bergabung dengan KBIHU AG untuk tahun-tahun mendatang setelah melihat bagaimana pembinaan dilakukan dengan ilmu, pendampingan, sentuhan ruhani, dan semangat pelayanan yang tulus.

Semua itu berjalan dalam satu prinsip yang terus dijaga oleh KBIHU AG: *“Melayani orang ibadah adalah kewajiban kami, bukan bisnis kami.”*

Dan mungkin bertahun-tahun setelah para jamaah pulang dari Tanah Suci, akan tetap ada seseorang di sudut Masjidil Haram yang membaca Al-Qur’an dari mushaf yang mereka wakafkan. Tanpa mengenal siapa pewakafnya, pahala bacaannya terus mengalir, menembus langit, menerangi kubur, dan menjadi saksi bahwa pernah ada hati yang datang ke Baitullah dengan penuh keikhlasan.

Penulis Isw89 

Sumber KBIHU AL GRATIS 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *