Jurnal hukum indonesia Bangkalan.Di tengah semakin terbatasnya ruang ekspresi bagi seniman rupa, nama Drs. Fajar Iriadi tetap berdiri sebagai salah satu sosok yang konsisten menjaga nyala kreativitas di Bangkalan. Melalui pameran tunggal yang digelar di Paseban Alun-Alun Kota Bangkalan, seniman yang akrab disapa IR itu kembali menegaskan bahwa seni tidak akan mati selama masih ada mereka yang setia berkarya.
Pada usia 63 tahun, Fajar Iriadi menghadirkan puluhan karya bercorak dekoratif modern dan abstrak yang selama ini menjadi identitas kuat dalam perjalanan keseniannya. Pameran tersebut bukan sekadar ajang memamerkan hasil karya, melainkan penanda perjalanan panjang seorang perupa yang memilih tetap produktif meski dunia seni rupa kerap berjalan di luar sorotan publik.
Di sela pameran,IR mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk memberikan semangat kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam menekuni bidang yang dicintainya.
“Ini buat spirit bagi adik-adik dan anak didik saya bahwa tidak ada kata menyerah untuk terus berkarya,” ujarnya, Jumat (19/6).
Menurutnya, makna berkarya tidak hanya terbatas pada seni rupa. Setiap profesi memiliki ruang kreativitas masing-masing yang dapat menghasilkan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat. Karena itu, semangat mencipta dan berinovasi harus terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.
Selama puluhan tahun berkesenian, IR mengaku tidak pernah menetapkan target tertentu. Baginya, proses kreatif lebih penting daripada pencapaian yang bersifat seremonial. Karya-karya yang lahir selama ini merupakan bentuk ekspresi yang mengalir secara alami seiring perjalanan hidupnya.
“Semua berjalan seperti air mengalir. Saya hanya ingin terus mengisi ruang waktu dengan beberapa karya yang saya ekspresikan ke dalam kanvas,” tuturnya.
Selain dikenal sebagai pelukis, IR juga pernah terlibat dalam berbagai bidang seni dekoratif, mulai dari desain panggung hingga merancang motif batik hasil kreasinya sendiri. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa seni dapat hadir dalam berbagai bentuk dan menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

Lebih jauh, ia menilai pembentukan karakter kreatif perlu dimulai sejak usia dini. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk mengenali bakat dan minatnya agar tumbuh dengan rasa percaya diri serta keberanian mengekspresikan diri.
Meski aktivitas seni rupa di Bangkalan tidak selalu mendapat perhatian besar, IR meyakini dunia seni di daerah ini masih hidup.
Banyak perupa yang tetap berkarya dengan caranya masing-masing, meskipun ruang apresiasi dan kesempatan untuk menampilkan karya belum sebanyak bidang lainnya.
Karena itu, menurutnya, keberlangsungan seni rupa sangat bergantung pada konsistensi para pelaku seni dalam menjaga semangat berkarya dan menyiapkan regenerasi.
“Poin terpenting adalah terus berkarya. Apa pun profesinya, apa pun hobinya, selama itu bermanfaat maka teruslah berkarya dan kembangkan,” katanya.
Pameran yang berlangsung selama lima hari, mulai Sabtu hingga Kamis mendatang, menjadi pengingat bahwa seni tidak selalu membutuhkan panggung besar untuk tetap hidup. Di tengah terbatasnya ruang ekspresi, ketekunan para seniman seperti Fajar Iriadi justru menjadi bukti bahwa denyut seni rupa Bangkalan masih terus berdetak, menjaga warna kebudayaan agar tidak tenggelam oleh perkembangan zaman.
#Robin
