Jurnal hukum indonesia Bangkalan.Pameran Seni Rupa Tunggal karya seniman senior Bangkalan, Drs. Fajar Iriadi atau yang akrab disapa Mas IR, resmi ditutup setelah berlangsung selama lima hari di Taman Paseban Bangkalan. Tak sekadar memamerkan puluhan karya seni, kegiatan ini menjadi ruang bagi para seniman untuk menunjukkan bahwa Bangkalan memiliki potensi seni rupa yang terus tumbuh dan layak mendapat perhatian.
Selama lima hari penyelenggaraan, pameran diisi berbagai kegiatan, mulai dari pertunjukan tari tradisional, pantomim, demonstrasi melukis oleh anak-anak didik Sanggar Lukis Madurese dari tingkat TK hingga SMA/SMK, hingga dialog publik mengenai perkembangan seni dan budaya.
Pada penutupan acara, Mas IR menyampaikan bahwa pameran sengaja digelar di ruang terbuka agar masyarakat mengetahui bahwa Bangkalan memiliki banyak perupa yang tetap konsisten berkarya sekaligus memberi semangat kepada generasi muda untuk mencintai dunia seni.
“Saya ingin masyarakat tahu bahwa di Bangkalan ada perupa yang terus berkarya. Saya juga ingin memberikan semangat kepada anak-anak muda agar tidak ragu mengembangkan bakat seninya. Karena itu saya memilih menggelar pameran di tempat umum agar bisa dinikmati semua masyarakat,” ujar Mas IR.
Mas IR juga mengungkapkan bahwa selama pelaksanaan pameran, Bupati Bangkalan belum sempat hadir mengunjungi lokasi kegiatan. Ia mengaku memahami kesibukan kepala daerah yang memiliki banyak agenda pemerintahan.
“Saya sadar Bupati memiliki banyak pekerjaan. Tidak apa-apa, semoga pada pameran berikutnya beliau bisa hadir,” katanya.
Meski demikian, menurut Mas IR, kehadiran pemerintah dalam kegiatan seni memiliki makna tersendiri bagi para pelaku seni. Bukan semata-mata sebagai tamu undangan, melainkan sebagai bentuk dukungan moral terhadap upaya para seniman menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.
Menurutnya, perhatian terhadap dunia seni tidak selalu diwujudkan dalam bentuk program atau anggaran. Kehadiran dan apresiasi dari para pemangku kebijakan juga menjadi penyemangat bagi para seniman untuk terus berkarya dan melahirkan generasi kreatif di Bangkalan.
Pameran tunggal tersebut juga menghasilkan kesepakatan di antara para pelaku seni untuk menggelar kegiatan seni secara rutin setiap bulan di Taman Paseban. Agenda tersebut bahkan telah disusun hingga akhir tahun 2026.
“Alhamdulillah, teman-teman seniman sepakat menghidupkan kegiatan seni setiap bulan di tempat yang sama. Mudah-mudahan ini menjadi langkah awal agar seni di Bangkalan semakin hidup dan mendapat perhatian lebih luas,” ungkapnya.
Sebagai pendiri Sanggar Lukis Madurese, Mas IR berharap gerakan berkesenian yang telah dimulai tidak berhenti pada pameran ini saja. Ia mengajak seluruh masyarakat, termasuk pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan komunitas seni, untuk bersama-sama membangun ekosistem seni yang lebih kuat di Bangkalan.
“Teruslah berkarya hingga menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam setiap karya yang diciptakan. Karya yang lahir dari hati akan selalu memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya.
Jurnalis Robin
