*BANGKALAN, jurnal hukum Indonesia http://.id* – Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas perundungan terus digencarkan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata / KKN Kelompok 03 Universitas Trunojoyo Madura / UTM yang bertugas di Desa Dlemer, Kecamatan Kwanyar, menggelar psikoedukasi anti-bullying di dua sekolah dasar setempat.
Kegiatan ini menyasar UPTD SD Negeri 1 Dlemer dan UPTD SD Negeri 2 Dlemer dengan target seluruh siswa mulai kelas I hingga kelas VI. Tujuannya menanamkan nilai empati, saling menghormati, dan menolak segala bentuk bullying sejak usia dini.
*Edukasi Interaktif, Siswa Antusias*
Di UPTD SD Negeri 1 Dlemer, kegiatan berlangsung pada Kamis, 16 Juli 2026. Mahasiswa KKN menyampaikan materi tentang pengertian bullying, bentuk-bentuk perundungan, dampak bagi korban dan pelaku, hingga cara mencegahnya.
Agar mudah dipahami anak-anak, materi dikemas secara komunikatif dan interaktif. Mahasiswa mengajak siswa berdiskusi, sesi tanya jawab, serta memberi contoh kasus yang sering terjadi di lingkungan sekolah.
“Kami ingin anak-anak bisa mengenali mana yang termasuk bullying dan berani melaporkannya. Sekolah harus jadi tempat yang nyaman, bukan tempat yang menakutkan,” ujar salah satu anggota KKN Kelompok 03.
Semangat serupa kembali digaungkan di UPTD SD Negeri 2 Dlemer pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan diawali dengan senam bersama yang diikuti guru, mahasiswa, dan seluruh siswa untuk menciptakan suasana ceria.
Sesi materi anti-bullying dilanjutkan dengan kuis dan tanya jawab. Siswa yang aktif dan mampu menjawab pertanyaan diberi hadiah sebagai bentuk apresiasi. Cara ini terbukti efektif meningkatkan antusiasme dan daya ingat siswa.

*Harapan Ciptakan Generasi Berkarakter*
Tingginya partisipasi siswa menjadi bukti kegiatan ini diterima dengan baik. Anak-anak terlihat berani menyampaikan pendapat dan tertarik mengikuti setiap rangkaian acara.
Koordinator KKN Kelompok 03 UTM berharap, melalui psikoedukasi ini siswa mampu membangun sikap empati dan menghargai perbedaan.
“Penanaman karakter positif harus dimulai dari SD. Kalau dari kecil sudah terbiasa saling menghargai, kami yakin budaya sekolah yang inklusif dan bebas bullying bisa terwujud,” jelasnya.
Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen mahasiswa UTM dalam mendukung program pendidikan ramah anak. Sinergi antara mahasiswa, pihak sekolah, dan guru diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan bullying di Bangkalan.
Metro jurnal hukum Indonesia.id_
*Reporter: Iswandi*
