JURNAL HUKUM INDONESIA MAKKAH, 16 Mei 2026* — Jamaah KBIHU Al-Gratis (AG) Bangkalan kembali melaksanakan umrah kedua dengan mengambil miqat di Masjid Aisyah at-Tan’im pada Jumat pagi waktu Arab Saudi.
Rombongan berangkat dari Hotel Shaza Asil sekitar pukul 06.00 WAS dengan semangat tinggi. Wajah-wajah jamaah tampak lebih tenang setelah beberapa hari menjalankan ibadah di Tanah Suci. Perjalanan menuju Tan’im berlangsung tertib dan khusyuk. Setibanya di lokasi miqat, para jamaah melaksanakan niat ihram umrah, lalu kembali menuju Masjidil Haram untuk menyempurnakan rangkaian thawaf, sa’i, hingga tahallul.
Seluruh rangkaian umrah kedua selesai sekitar pukul 10.30 WAS dalam keadaan sehat wal afiat.
Berbeda dengan suasana umrah wajib pertama yang masih diwarnai penyesuaian dan ketegangan menghadapi lautan manusia di Masjidil Haram, umrah kedua ini terasa jauh lebih tenang dan penuh penghayatan. Langkah jamaah lebih mantap. Bacaan talbiyah terdengar lirih namun mendalam, dan doa-doa yang dipanjatkan terasa lahir dari lubuk hati.
Sebagian jamaah larut dalam munajat panjang di hadapan Ka’bah. Ada yang memanjatkan doa untuk keluarga, memohon kesehatan, keberkahan hidup, hingga ampunan atas dosa-dosa masa lalu. Banyak yang mengaku, berada di hadapan Baitullah untuk kedua kalinya menghadirkan rasa yang berbeda—lebih dekat, lebih teduh, dan sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Selama ibadah berlangsung, jamaah terus mendapatkan pendampingan dari pembimbing haji KBIHU AG, Mohamad Djasuli. Ia konsisten membimbing tidak hanya pada aspek teknis manasik, tetapi juga pada pemahaman ruhani dan makna ibadah.
“Esensi perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar berpindah tempat, melainkan perjalanan untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Allah SWT,” ujarnya.
Kebersamaan antarjamaah juga tampak semakin kuat. Mereka saling membantu, menjaga kekompakan, dan saling mengingatkan pada setiap tahapan ibadah. Di tengah padatnya Masjidil Haram dan ribuan manusia dari berbagai penjuru dunia, jamaah KBIHU AG tetap mampu menjalankan ibadah dengan tertib, tenang, dan penuh semangat.
Hal ini menjadi bagian dari komitmen pelayanan KBIHU AG yang mengedepankan pembinaan ibadah berbasis ilmu, pendampingan, dan pelayanan jamaah. Semangat tersebut sejalan dengan motto KBIHU AG:
*“Melayani Orang Ibadah Kewajiban Kami, Bukan Bisnis Kami.”*
Di tengah lantunan talbiyah yang menggema di pelataran Masjidil Haram pagi itu, jamaah KBIHU AG merasakan bahwa perjalanan menuju Ka’bah sejatinya bukan hanya perjalanan kaki, melainkan perjalanan hati untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Penulis Isw89
Sumber KBIHU AL Gratis
