JURNAL HUKUM INDONESIA MAKKAH
Di tengah padatnya aktivitas ibadah dan derasnya lautan manusia di Tanah Suci, KBIHU Al-Gratis (AG) Bangkalan menyadari satu hal penting: jamaah tidak cukup hanya dibimbing secara fisik. Mereka juga harus terus dikuatkan dengan ilmu, agar setiap langkah ibadah dijalani dengan tenang, yakin, dan tidak kebingungan.
Karena itu, mulai Senin, 11 Mei 2026, KBIHU Al-Gratis (AG) secara rutin melaksanakan pengajian dan pembinaan manasik setiap ba’da Dhuhur di Musholla Shaza Asil Hotel. Hotel ini menjadi tempat menginap jamaah AG Bangkalan selama berada di Kota Suci Makkah.
Setiap siang, suasana musholla hotel berubah menjadi ruang ilmu yang penuh kekhusyukan. Di sela kelelahan setelah thawaf, sa’i, dan aktivitas ibadah lainnya, jamaah tetap duduk rapi dengan catatan dan mushaf kecil di tangan mereka.
Bukan karena diwajibkan, tetapi karena mereka mulai sadar bahwa ibadah haji dan umrah bukan hanya soal semangat beribadah. Lebih dari itu, ibadah membutuhkan ketepatan ilmu agar benar-benar sah, tertib, dan sempurna.
Karena itulah pengajian ba’da Dhuhur ini menjadi sangat penting. Pengajian ini tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga menenangkan hati jamaah agar tidak terus dihantui rasa takut salah.
Pada pengajian pertama, dibahas:
*فصل في محرمات الإحرام*
(Fasal tentang larangan-larangan ihram)
Kajian ini berlandaskan kitab-kitab turats Madzhab Syafi’i, khususnya:
📖 _Al-Iidhah fii Manasikil Hajji wal Umroh_ serta penjelasan ulama-ulama madzhab lainnya.
Jamaah diajak memahami bahwa larangan ihram bukan sekadar aturan fiqih yang harus dihafal. Larangan-larangan itu adalah bagian dari latihan besar untuk menjaga adab, kesabaran, dan pengendalian diri di hadapan Allah SWT.
Dijelaskan pula larangan memakai wewangian, mencabut rambut, memotong kuku, memakai pakaian tertentu bagi laki-laki, hingga larangan-larangan lain yang sering dianggap sepele, padahal memiliki konsekuensi hukum dalam ibadah haji dan umrah.
Ketika penjelasan itu disampaikan, suasana musholla mendadak menjadi sangat hening. Jamaah mulai memahami bahwa menjadi tamu Allah bukan hanya soal datang ke Makkah, tetapi juga soal bagaimana menjaga diri agar tetap tunduk dalam setiap keadaan.
Di bawah bimbingan *Mohamad Djasuli*, jamaah tidak hanya diberi penjelasan hukum, tetapi juga pendampingan batin agar tetap tenang menjalani ibadah. Sebab tidak sedikit jamaah yang mampu secara fisik, tetapi sering dilanda kebingungan karena kurang memahami detail ibadah yang sedang dijalankan.
Di sinilah peran pengajian rutin itu terasa sangat penting. Setiap ba’da Dhuhur, musholla hotel bukan sekadar tempat berkumpul. Ia menjadi tempat jamaah:
– Meluruskan niat
– Memperbaiki pemahaman
– Mengurangi kebingungan
– Menguatkan keyakinan dalam beribadah
KBIHU Al-Gratis (AG) sendiri terus memegang teguh filosofi pelayanan mereka:
*“Melayani Orang Ibadah adalah Kewajiban Kami, Bukan Bisnis Kami.”*
Bagi AG, membimbing jamaah bukan hanya soal mengantar sampai Tanah Suci. Yang utama adalah memastikan jamaah benar-benar memahami apa yang mereka lakukan di hadapan Allah SWT.
Dan setiap siang itu, di musholla kecil hotel di Kota Makkah, ilmu tidak hanya dipelajari. Ilmu perlahan-lahan berubah menjadi cahaya yang menenangkan hati jamaah.
Penulis Isw89
Sumber KBIHU AL Gratis
